Jumat, 13 Juni 2014

cerpen " mengejar juara " karya komang subagia


Mengejar Juara
Karya : Komang subagia

            Buku adalah sahabatku, aku adalah seorang laki-laki berumur 15 tahun, aku bersekolah di SMAN 1 Mappedeceng, dan sekarang aku duduk dikelas sepuluh, dari sekian banyak siswa disekolah SMAN 1 Mappedeceng bisa dikatakan aku adalah anak yang paling culun di sekolah ku, baju didalam dengan gaya rambutku yang tertidur kesamping, teman-temanku sering memanggil ku “cupu”dan“Nyelep” ini adalah bahasa bali yang bila diartikan rambut tidur. Sehari-harinya bila ada waktu luang sedikitnya aku sempatkan untuk membaca buku.Dalam hidupku aku slalu ingin menjadi juara dan menjadi yang terbaik dari yang terbaik.
            Disuatu pagi cerah, ayam jago milik tetangga ku membangunkanku, menandadakan waktu ku untuk sekolah, akupun mandi dan mempersiapkan alat-alat sekolah ku. Rambutku ku kusisir dengan gaya khasku, baju ku kurapikan dan kuselipkan dicelanaku, setelah selesai aku berangkat kesekolah, dengan ditemani sepeda motorku aku berangkat kesekolah, setibanya disekolah aku melakukan kegiatan belajar seperti biasanya.
            Waktu istirahat tiba, aku duduk dikelas dan bercerita-cerita dengan temanku Yudit dan Edi, tiba-tiba ada seorang temanku memanggilku, katanya aku dipanggil oleh guru agama ku, aku pun terkejut, apakah yang terjadi….??,jantungku berdebar tangan ku terasa dingin. Aku pun menemui guru ku dan bertanya,ada apa ia memanggilku…?, ternyata ia berkata bahwa 1 minggu lagi aku akan ikut lomba. Hati ku senang, tangan ku kembali hangat tetapi jantungku tambah berdetak kencang, dan aku pun kembali kekelas.
            Bel berbunyi, aku dan teman-temanku pulang. Setibanya dirumah aku bercerita pada ibu ku, ibuku sangat senang mendengarnya. Setiap malam aku belajar dengan sungguh-sungguh agar aku dapat menjuarai lomba itu. Harapan untuk bisa menjuarai lomba itu, membuat ku semakin membuat ku bersemangat belajar.
            Waktu lomba tersisa 4 hari lagi aku pun memperpadat jam belajar ku, bahkan saking semangatnya aku  selalu bangun jam 2 pagi untuk belajar, namun keesokan harinya penyakitku ku yang lama yaitu kurang darah  mulai terasa kembali tubuhku panas dan terasa dingin aku tidak dapat bangun dari tempat tidurku selama 1 hari aku dirawat oleh ibu ku dan ibude ku yang merupakan seorang tukang urut, selama satu hari itu aku diceramahi oleh ibude ku, karena aku selalu lupa waktu dan memaksakan diri saat belajar, aku tahu itu memang mengesalkan tapi aku tau ibude ku benar aku memang jarang tidur, dan aku rasa ibude ku juga ingin yang terbaik untuk ku, keesokan harinya aku sudah bisa bangun namun panas dingin di tubuh ku masih terasa, aku belajar di kamarku dengan posisi tidur, aku merasa persiapan ku masih kurang sehingga aku sudah mulai berpikir akan kalah pada saat itu.
            Besok adalah yang ditunggu, ya… benar besok adalah perlombaan olimpiade agama sekecamatan di Sukamaju. Namun ibu ku melarang ku pergi, karena kondisi ku yang masih belum sehat, hal ini tentu sangat berat dan menjadi beban yang sangat mengesalkan dihatiku, dan berjuang untuk membujuk ibuku agar mengizinkan ku, aku berpura-pura sehat agar dapat diizinkan untuk pergi, tapi tetap saja ibu ku melarang ku untuk pergi, aku kesal…aku tidak mau makan dan semalaman tidur dikamar, namun malam itu ibude ku datang dia menyakan keadaan ku pada ibu ku, dan ibu ku menceritakan hal yang terjadi pada ibude ku dan akhirnya ibude ku membujuk ibuku agar mengizinkan ku pergi lomba, dan akhirnya ibu ku berubah pikiran dia mengetuk pintuku dan mengatakan bahwa aku diizinkan untuk pergi lomba, akupun sangat senang akan hal itu. Dan syukurlah aku rasa persiapan ku cukup untuk lomba ini.
            Pagi yang cerah semakin menyemangatiku.. aku terbangun dari tidurku.. jam dinding ku telah menunjukan jam 07.00 aku pun segera mandi dan bergegas, setelah selesai aku berangkat untuk pergi ke rumah guruku terlebih dahulu, setibanya disana ternyata telah banyak anak-anak yang berkumpul untuk sebagai penyemangat. Aku dan dua orang kakak kelasku yang akan ikut lomba berkumpul dan mulai melakukan tes terlebih dahulu untuk mengetahui kesiapan kami, dan kami pun sudah merasa siap, kami serombongan berangkat ke tempat diadakanya lomba.
            Setibanya disana….suasana sangat ramai, aku melihat banyak teman-temanku disana yang berasal dari utusan sekolah lain, jantungku mulai berdebar, tangan ku terasa dingin, dan hatiku mulai bertanya-tanya, apakah aku akan menang…?.
            Perlombaan dimulai kami mendaftarkan nama di ruang pendaftaran, babak pertama adalah babak penyisihan, grup ku berada pada grup B, dengan menggunakan piring seng yang dipukul untuk tombol yang menandakan bahwa pertanyaan akan dijawab pertanyaan pun di lontarkan pada kami.
            Sungguh keajaiban kami berhasil dibabak penyisihan ini, kami masuk kebabak final melawan SMAN 1 Masamba dan SMK Sukamaju, suasana semakin menegangkan, guru agama ku menonton dengan sangat tegang, suara teman-teman ku menyemangatiku aku pun menggerutu, aku yakin aku pasti bisa…suara piring seng bergenteng  bersahut sahutan ketika hendak menjawab pertanyaanya… dan benar saja nilai grup kami paling tinggi kami pun menjuarai lomba ini kami mendapatkan juara 1 aku sangat bangga akan hal tersebut karena aku berhasil membawakan sebuah piala untuk sekolah ku tercinta SMAN 1 Mappedeceng.
            Setelah itu aku pulang dan memberitahukan hal ini pada ibu dan bude ku. Suatu hal yang tidak sia-sia aku harus merasakan sakit dulu ini hasilnya, itulah yang terbayang dalam pikiranku. Keesokan harinya adalah hari senin, saat upacara bendera, kami diberikan sebuah pengargaan oleh kepala sekolah, aku merasa sangat senang. Aku lah sang pengejar juara.
* SELESAI *